Kamis, 15 Januari 2015

Menuju Pergerakan Kampus Madani (Bagian 1)


Dakwah merupakan kata kerja yang tidak bisa dielakkan pekerjaannya oleh umat manusia yang beragama islam. Walaupun ada banyak orang yang tidak sadar akan hal ini lalu membebankan tugas dakwah kepada para ulama atau dengan kata lain mereka mengatakan hanya para ulama sajalah yang wajib menyampaikan syiar isalam  itu. Pada hal jelas-jelas dalam Al Qur’an disebutkan bahwa manusia akan mengalami kerugian kecuali jika mereka beriman, beramal shaleh, dan menasehati dengan benar dan sabar (tertuang dalam surat Al Ashri), dalam surat Ali Imran juga disebutkan bahwa kita disebut sebagai umat terbaik hanya jika menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang mungkar. Maka, tidak ada alasan lagi bagi kita sebagai umat manusia untuk mengelak amanah dakwah ini. Walaupun itu hanya satu ayat, maka sampaikanlah dan pasti itu akan bermanfaat bagi banyak orang.

Ada banyak lahan yang bisa dijadikan tempat berdakwah, salah satunya adalah kampus atau perguruan tinggi. Ini merupakan alternatif dalam mengembangkan dakwah dan bisa jadi merupakan tempat yang paling cepat berkembangnya dakwah berdasarkan fakta yang terjadi beberapa tahun terakhir.

Bangunan Dakwah Kampus

            Dakwah kampus atau yang juga dikenal dengan nama Dakwah Thulabyah menjadi tren hangat dan merupkan basis pergerakan yang cukup ampuh dalam melebarkan sayap-sayap dakwah. Oleh karena itu, wajar kiranya jika kampus menjadi objek perhatian para punggawa dakwah dalam mengimprof kampus sehingga bisa lebih memasifkan peranannya ke depan. Kampus berisi para kaum intelektual yang lebih menggunakan pertimbangan akal dan rasional dalam bertindak, tabiat ini sesuai dengan apa-apa yang dibangun oleh gerakan dakwah, khususnya gerakan dakwah tarbyah dalam mengoptimalkan peranan kampus sebagai basis gerakan dakwah yang cukup masif. Apalagi dengan telah berkembangnya dakwah dan posisi kader yang sudah berada dimana-mana dalam jajaran pemerintahan kampus semakin membuat dakwah berkembang dengan cepat. Banyak lembaga yang telah dipegang yang tentunya makin memudahkan pergerakan, dakwah kita tidak hanya sebatas dakwah fardyah tetapi lebih kepada dalwah kelembagaan yang menghasilkan out put yang lebih banyak. Dakwah makin berkembang, tantangan dan hambatannya otomatis makin bertambah juga, untuk itu dibutuhkan strategi yang jitu agar kesinambunmgan dakwah terus berjalan dan tak kenal henti walau badai menghadang. Sebagaimana firman Allah dalam surat As Shaf ayat 3 bahwa Allah mencintai orang-orang yang berperang (dalam konteks ini dakwah) dengan barisan yang rapi dan teratur. Pemetaan dakwah pun dilakukan sebagai bentuk strategi dakwah thulabyah.

Di UGM yang konon merupakan kampus tertua dan terbesar di Indonesia melakukan strategi  pemetaan dakwah dengan konsep tiga lini, yaitu lini A, lini B, lini C. Lini A fokus dalam pengembangan dakwah dalam bidang da’awi yang dimanifestasikan dalam bentuk kelembagaan SKI di kampus, yang meliputi SKI Jurusan, SKI fakultas, dan Jamaah Shalahudin yang merupakan SKI tingkat Universitas. Di sinilah disampaikan syiar islam secara jelas dan gamblang. Kemudian ada lagi lini B yang bergerak dalam bidang syasi atau perpolitikan di kampus, dengan basis KAMMI dan dimanifestasikan dengan memasukkan kader ke BEM. Melalui lini syasi ini gerakan dakwah pun bisa mempengaruhi kebijakan birokrasi di kampus sehingga bisa disalaraskan agenda-agenda dakwah dengan kebijakan yang ada. Berbagai perubahan pun terjadi dalam kampus yang seiring dengan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah, maka lahirlah lini C yang bergerak pada Kelompok Studi di fakultas dan universitas, dengan lini C ini ia akan mencerdaskan orang yang telah sholeh, lalu kemudian mensholehkan orang yang cerdas. Akibatnya, istilah-istilah yang cenderung mendiskreditkan para kader dakwah karena prestasi akdemisnya yang cenderung jeblok bisa diatasi melalui lini C ini.


Secara kasat mata, strategi yang diciptakan seolah tidak ada masalah. Namun sesungguhnya itulah bencana kalau tidak ada masalah yang dirasakan sehingga pergerakan ke depannya akan cenderung stagnan dan tanpa ada improvisasi. Salah satu kendala yang sering ditemukan adalah kebijakan yang dikeluarkan oleh pihak internal dakwah. Dengan rasionalisasi tsiqoh dan ketaatan maka keputusan syuro yang dirurunkan ke bawah sulit diterima dengan baik oleh para jundi dakwah. Prosedur syuro yang kurang profesional ini kalau tidak segera diperbaiki dikhawatirkan kedepannya akan menjadi bom bunuh diri bagi gerakan dakwah sendiri. Seharusnya kasus yang terjadi pada saat PEMIRA BEM KM baru-baru ini bisa menjadi pelajaran bahwa para kader yang berposisi sebagai jundi adalah orang yang cerdas dan punya rasional jika akan bertindak. Sebagian kader yang melenceng dari agenda dakwah adalah suatu bukti bahwa internal gerakan dakwah harus juga diperbaiki, khususnya dalam hal mekanisme dan prosedural syuro nya, melibatkan lebih banyak pihak dan rasionalisasi yang bisa diterima di seluruh kalangan kader, sehingga kedepannya setiap hasil yang diputuskan tidak menimbulkan pertentangan dari pihak kader sendiri.

@ukhti Alvisari

0 komentar:

Posting Komentar